MAKALAH
“TOKOH-TOKOH PSIKOLOGI
PENDIDIKAN”
Disusun
untuk Memenuhi Tugas Mata KuliahPsikologi
Pendidikan
Dosen pengampu : Niken Wahyu Utami, M.Pd

Disusun oleh
Citra Murti Anggraini (14144100078)
Syitoh Noviani (14144100102)
Elga Dian Pertiwi (14144100108)
Retno Argianti (14144100146)
Kelas : 3A3
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA
2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas
kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan laporan berjudul “Makalah Psikologi
Pendidikan Tokoh-tokoh Pendidikan” dengan lancar.Penulisan laporan ini
merupakan kewajiban dan sebagai tugas Psikologi Pendidikan mahasiswa
Universitas PGRI Yogyakarta yang kami ajukan untuk memenuhi salah satu
persyaratan dalam penilaian.
Kami menyadari bahwa dalam penyelesaian
laporan ini, kami banyak mendapatkan bimbingan dan nasehat, serta bantuan dari
berbagai pihak. Berkaitan dengan hal tersebut kami mengaturkan banyak terima
kasih kepada
1. Niken Wahyu Utami, M.Pd. yang sudah memberikan bimbingan dan
pengarahan kepada saya,
2. bapak dan ibunda
kami tercinta, terimakasih untuk nasehat-nasehatnya,
3. teman-teman 3A3 terimakasih atas
bantuannya,
4. dan semua
pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu yang telah memberikan
bantuan dalam penyusunan laporan ini.
Kami menyadari sepenuhnya dalam
penyusunan laporan ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami terus menunggu saran dan kritik yang sifatnya membangun dan
positif. Semoga hasil laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan pihak yang
berkepentingan.
Yogyakarta, 25
September 2015
Penyusun
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 David Paul Ausubel


A.
Biografi David Paul Ausubel
Ausubel lahir pada tanggal 25 Oktober
1918 dan dibesarkan di Brooklyn, New York. Ia belajar di
Universitas Pennsylvania di mana ia lulus dengan pujian pada tahun 1939,
menerima sarjana jurusan Psikologi. Ausubel kemudian lulus dari sekolah
kedokteran pada tahun 1943 di Middlesex University di mana ia melanjutkan untuk
menyelesaikan magang berputar di Rumah Sakit Gouveneur, yang terletak di sisi
timur lebih rendah dari Manhattan, New York Setelah dinas militer dengan US
Public Health Service,. Ausubel meraih MA dan Ph.D. dalam Psikologi
Perkembangan dari Columbia University pada tahun 1950.
Dia terus mengadakan serangkaian profesor di beberapa
sekolah pendidikan.
Pada tahun 1973, Ausubel pensiun dari kehidupan akademik dan mengabdikan dirinya untuk praktek psikiatri nya. Selama praktek psikiatri nya, Ausubel menerbitkan banyak buku serta artikel dalam jurnal psikiatri dan psikologi. Pada tahun 1976, ia menerima Thorndike Award dari American Psychological Association untuk "Distinguished Kontribusi Psikologis Pendidikan". Pada usia 75 pada tahun 1994, Ausubel pensiun dari kehidupan profesional untuk mengabdikan dirinya penuh waktu untuk menulis, yang empat buku yang dihasilkan. Dia menulis empat buku. Ausubel meninggal pada tanggal 9 Juli 2008. Ausubel dan istrinya Pearl memiliki dua anak, Fred dan Laura Ausubel.
Pada tahun 1973, Ausubel pensiun dari kehidupan akademik dan mengabdikan dirinya untuk praktek psikiatri nya. Selama praktek psikiatri nya, Ausubel menerbitkan banyak buku serta artikel dalam jurnal psikiatri dan psikologi. Pada tahun 1976, ia menerima Thorndike Award dari American Psychological Association untuk "Distinguished Kontribusi Psikologis Pendidikan". Pada usia 75 pada tahun 1994, Ausubel pensiun dari kehidupan profesional untuk mengabdikan dirinya penuh waktu untuk menulis, yang empat buku yang dihasilkan. Dia menulis empat buku. Ausubel meninggal pada tanggal 9 Juli 2008. Ausubel dan istrinya Pearl memiliki dua anak, Fred dan Laura Ausubel.
Ausubel
dipengaruhi oleh ajaran Jean Piaget.
Mirip dengan ide-ide Piaget skema konseptual, Ausubel terkait ini untuk penjelasan tentang
bagaimana orang memperoleh pengetahuan. "David Ausubel berteori bahwa
orang memperoleh pengetahuan terutama
oleh yang terkena langsung ke sana daripada melalui penemuan" (Woolfolk et
al., 2010, hal. 288).
B.
Pengertian Belajar Bermakna
Menurut David P. Ausubel, ada dua jenis belajar :
1. Belajar Bermakna (Meaningfull Learning)
Belajar dikatakan bermakna bila
informasi yang akan dipelajari peserta didik disusun sesuai dengan struktur
kognitif yang dimiliki peserta didik itu sehingga peserta didik itu dapat
mengaitkan informasi barunya dengan struktur kognitif yang dimilikinya.
Sehingga peserta didik menjadi kuat ingatannya dan transfer belajarnya mudah dicapai.
Struktur kognitif dapat berupa fakta-fakta, konsep-konsep maupun generalisasi
yang telah diperoleh atau bahkan dipahami sebelumnya oleh siswa.
2. Belajar Menghafal (Rote Learning)
Bila struktur kognitif yang
cocok dengan fenomena baru itu belum ada maka informasi baru tersebut harus
dipelajari secara menghafal. Belajar menghafal ini perlu bila seseorang
memperoleh informasi baru dalam dunia pengetahuan yang sama sekali tidak
berhubungan dengan apa yang ia ketahui sebelumnya.
Belajar
dengan menerima dan belajar melalui penemuan kedua-duanya bisa menjadi
belajar dengan menghafal atau belajar dengan pengertian. Kalau seorang anak
belajar teorema Phytagoras lengkap hingga rumusnya dengan cara menerima,
selanjutnya rumus itu selalu dikaitkan dengan hubungan antara ukuran sisi
siku-siku dan sisi miring segitiga siku-siku, maka belajar menerima itu menjadi
belajar dengan pengertian. Juga, bila seorang peserta didik memperoleh teorema
Phytagoras itu melalui penemuan dan kemudian rumusnya selalu dikaitkannya
dengan hubungan antara ukuran sisi siku-siku dengan sisi miring segitiga
siku-siku, maka belajar dengan penemuan itu menjadi belajar dengan pengertian.
Jika dua orang peserta didik belajar ; seorang belajar dengan menerima dan yang
seorang lagi belajar dengan penemuan, tetapi selanjutnya mereka hanya menghafal
bentuk akhir itu sebagai aturan untuk melakukan pembagian dengan pecahan, maka
belajar mereka akhirnya hanya belajar menghafal saja.
C.
Dua Dimensi Belajar Bermakna Menurut Ausubel
Menurut
Ausubel belajar dapat diklasifikasikan kedalam dua dimensi. Dimensi pertama
berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran itu disajikan kepada
peserta didik melalui penerimaan atau penemuan. Selanjutnya dimensi kedua
menyangkut bagaimana peserta didik dapat mengaitkan informasi itu pada struktur
kognitif yang telah ada.Jika peserta didik hanya mencoba menghafalkan informasi
baru itu tanpa menghubungkan dengan struktur kognitifnya, maka terjadilah
belajar dengan hafalan.Sebaliknya jika peserta didik menghubungkan atau
mengaitkan informasi baru itu dengan struktur kognitifnya maka yang terjadi
adalah belajar bermakna.
D.
Empat Tipe Belajar Menurut Ausubel
1. Belajar dengan penemuan yang
bermakna
Informasi yang dipelajari,
ditentukan secara bebas oleh peserta didik.Peserta didik itu kemudian
menghubungkan pengetahuan yang baru itu dengan struktur kognitif yang
dimiliki.Misalnya peserta didik diminta menemukan sifat-sifat suatu bujur
sangkar.Dengan mengaitkan pengetahuan yang sudah dimiliki, seperti sifat-sifat
persegi panjang, peserta didik dapat menemukan sendiri sifat-sifat bujur
sangkar tersebut.
2. Belajar dengan penemuan tidak
bermakna
Informasi yang dipelajari,
ditentukan secara bebas oleh peserta didik, kemudian ia menghafalnya. Misalnya,
peserta didik menemukan sifat-sifat bujur sangkar tanpa bekal pengetahuan
sifat-sifat geometri yang berkaitan dengan segiempat dengan sifat-sifatnya,
yaitu dengan penggaris dan jangka.Dengan alat-alat ini diketemukan sifat-sifat
bujur sangkar dan kemudian dihafalkan.
3. Belajar menerima yang bermakna
Informasi yang telah tersusun secara
logis di sajikan kepada peserta didik dalam bentuk final/ akhir, peserta didik
kemudian menghubungkan pengetahuan yang baru itu dengan struktur kognitif yang
dimiliki. Misalnya peserta didik akan mempelajari akar-akar persamaan kuadrat.
Pengajar mempersiapkan bahan-bahan yang akan diberikan yang susunannya diatur
sedemikian rupa sehingga materi persamaan kuadrat tersebut dengan mudah
ter’tanam’ kedalam konsep persamaan yang sudah dimiliki peserta didik. Karena
pengertian persamaan lebih inklusif dari pada persamaan kuadrat, materi
persamaan tersebut dapat dipelajari peserta didik secara bermakna.
4. Belajar menerima yang tidak bermakna
Dari setiap tipe bahan yang
disajikan kepada peserta didik dalam bentuk final.Peserta didik tersebut
kemudian menghafalkannya.Bahan yang disajikan tadi tanpa memperhatikan
pengetahuan yang dimiliki peserta didik.
E.
Prasyarat Belajar Bermakna
a. Kondisi dan sikap peserta didik
terhadap tugas, hendaknya bersesuaian dengan intensi peserta didik. Apabila
peserta didik melaksanakan tugas dengan sikap bahwa ia ingin memahami bahan
pelajaran dan mengaplikasikan bahan baru serta menghubungkan bahan pelajaran
yang terdahulu, dikatakan peserta didik itu belajar bahan baru dengan cara yang
bermakna. Sebaliknya bila peserta didik itu tidak berkehendak mengaitkan bahan
yang dipelajari dengan informasi yang dimiliki, maka belajar itu tidak
bermakna. Demikianlah banyak peserta didik yang tidak berusaha mengerti matematika,
cenderung mengalami kegagalan dan akhirnya membenci matematika.
b. Tugas-tugas yang diberikan kepada
peserta didik harus sesuai dengan struktur kognitif peserta didik sehingga
peserta didik tersebut dapat mengasimilasi bahan baru secara bermakna. Belajar
bermakna pada tahap mula-mula memberikan pengertian kepada bahan baru sehingga
bahan baru itu akan terserap dan kemudian diingat peserta didik. Ia tidak
menghafal asosiasi stimulus-respon yang terpisah-pisah.
c. Tugas-tugas yang diberikan haruslah
sesuai dengan tahap perkembangan intelektual peserta didik. Peserta didik yang
masih di dalam periode operasi konkrit, bila diberi bahan materi matematika
yang abstrak tanpa contoh-contoh konkrit dari materi tersebut, akan
mengakibatkan peserta didik itu tidak mempunyai keinginan materi tersebut
secara bermakna. Dengan demikian peserta hanya menghafal pelajaran tadi tanpa
pengertian sehingga peserta didik mempelajari matematika dengan pernyataan-
pernyataan herbal yang tidak cermat dan tepat.
F.
Prinsip-prinsip Teori Belajar Bermakna
1. Pengatur awal (advance organizer)
Pengatur awal atau bahan pengait
dapat digunakan guru dalam membantu mengaitkan konsep lama dengan konsep baru
yang lebih tinggi maknanya.Penggunaan pengatur awal tepat dapat meningkatkan
pemahaman berbagai macam materi, terutama materi pelajaran yang telah mempunyai
struktur yang teratur. Pada saat mengawali pembelajaran dengan prestasi suatu
pokok bahasan sebaiknya “pengatur awal” itu digunakan, sehingga pembelajaran
akan lebih bermakna.
2. Diferensiasi progresif
Dalam proses belajar bermakna perlu
ada pengembangan dan kolaborasi konsep-konsep. Caranya unsur yang paling umum
dan inklusif diperkenalkan dahulu kemudian baru yang lebih mendetail, berarti
proses pembelajaran dari umum ke khusus.
3. Belajar superordinate
Belajar superordinat adalah proses
struktur kognitif yang mengalami pertumbuhan kearah deferensiasi, terjadi sejak
perolehan informasi dan diasosiasikan dengan konsep dalam struktur kognitif
tersebut. Proses belajar tersebut akan terus berlangsung hingga pada suatu saat
ditemukan hal-hal baru. Belajar superordinat akan terjadi bila konsep-konsep
yang lebih luas dan inklusif.
4. Penyesuaian Integratif
Pada suatu saat peserta didik
kemungkinan akan menghadapi kenyataan bahwa dua atau lebih nama konsep
digunakan untuk menyatakan konsep yang sama atau bila nama yang sama diterapkan
pada lebih satu konsep. Untuk mengatasi pertentangan kognitif itu, Ausubel
mengajukan konsep pembelajaran penyesuaian integratif.Caranya materi pelajaran
disusun sedemikian rupa, sehingga guru dapat menggunakan hierarkhi-hierarkhi
konseptual ke atas dan ke bawah selama informasi disajikan.
G.
Menghindari Belajar Hafalan
Jika
seorang anak berkeinginan untuk mengingat sesuatu tanpa mengaitkan hal yang
satu dengan hal yang lain maka baik proses maupun hasil pembelajarannya dapat
dinyatakan sebagai hafalan dan tidak akan bermakna sama sekali baginya.
Contoh
lain yang dapat dikemukakan tentang belajar hafalan ini adalah beberapa siswa
SD kelas 1 atau 2 yang dapat mengucapkan: “Ini Budi. Ini Ibu Budi,” namun ia
tidak dapat menentukan sama sekali mana yang “i” dan mana yang “di”. Contoh
lain dari belajar menghafal adalah siswa yang dapat mengingat dan menyatakan
rumus luas persegi panjang adalah l = p × l, namun ia tidak bisa menentukan
luas suatu persegi panjang karena ia tidak tahu arti lambang l, p, dan l.
Setelah
itu, si anak harus mampu mengaitkan antara pengetahuan yang baru dengan
pengetahuan yang sudah dipunyainya, sehingga proses pembelajarannya menjadi
bermakna..
” Jelaslah
bahwa pengetahuan yang sudah dimiliki siswa akan sangat menentukan berhasil
tidaknya suatu proses pembelajaran. Untuk menjelaskan tentang belajar bermakna
ini, perhatikan tiga bilangan berikut.
Menurut
Anda, dari tiga bilangan berikut:
a. 50, 471, 198
b. 54, 918, 071
c. 17, 081, 945
Manakah
yang lebih mudah dipelajari atau diingat para siswa?Seorang siswa dapat saja
mengingat ketiga bilangan tersebut yaitu dengan mengucapkan bilangan tersebut
berulang-ulang beberapa kali. Namun sebagai warga bangsa Indonesia tentunya
Bapak dan Ibu Guru akan meyakini bahwa bilangan (c) yaitu 17.081.945 merupakan
bilangan yang paling mudah dipelajari jika bilangan tersebut dikaitkan dengan
tanggal 17 – 08 – 1945 yang merupakan hari kemerdekaan Republik Indonesia.
Proses pembelajaran bilangan 17.081.945 (tujuh belas juta delapan puluh satu
ribu sembilan ratus empat puluh lima) akan bermakna bagi siswa hanya jika si
siswa, dengan bantuan gurunya, dapat mengaitkannya dengan tanggal keramat 17
Agustus 1945 yang sudah ada di dalam kerangka kognitifnya.
Bilangan
(b) yaitu 54.918.071 akan lebih mudah dipelajari siswa daripada bilangan (a)
yaitu 50.471.198 karena bilangan (b) didapat dari tanggal 17–08–1945 dalam
urutan terbalik yaitu 5491–80–71.
Bilangan
(a) merupakan bilangan yang paling sulit untuk dipelajari karena aturan atau
polanya belum diketahui. Contoh di atas menunjukkan bahwa suatu proses
pembelajaran akan lebih mudah dipelajari dan dipahami siswa jika para guru
mampu dalam memberi kemudahan bagi siswanya sedemikian sehingga para siswa
dapat mengaitkan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang sudah
dimilikinya. Itulah inti dari belajar bermakna (meaningful learning) yang telah
digagas David P Ausubel.
H.
Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Belajar Bermakna
Faktor-faktor
utama yang mempengaruhi belajar bermakna menurut Ausubel adalah struktur
kognitif yang ada, stabilitas, dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang
studi tertentu dan pada waktu tertentu. Sifat-sifat struktur kognitif
menentukan validitas dan kejelasan arti-arti yang timbul waktu informasi baru
masuk ke dalam struktur kognitif itu; demikian pula sifat proses interaksi yang
terjadi.
Jika
struktur kognitif itu stabil, dan diatur dengan baik, maka arti-arti yang sahih
dan jelas atau tidak meragukan akan timbul dan cenderung bertahan. Tetapi
sebaliknya jika struktur kognitif itu tidak stabil, meragukan, dan tidak
teratur, maka struktur kognitif itu cenderung menghambat belajar dan retensi.
I.
Kondisi-kondisi Belajar Bermakna
1. Menjelaskan hubungan atau relevansi
bahan- bahan baru dengan bahan- bahan lama.
2. Lebih dahulu diberikan ide yang
paling umum dan kemudian hal- hal yang lebih terperinci.
3. Menunjukkan persamaan dan perbedaan
antara bahan baru dengan bahan lama.
4. Mengusahakan agar ide yang telah ada
dikuasai sepenuhnya sebelum ide yang baru disajikan.
J.
Langkah-langkah Pembelajaran
Sebelum
dimulainya suatu proses belajar, maka penting untuk memperhatikan apa-apa saja
yang telah diketahui siswa, sebab ini merupakan faktor dalam mempengaruhi
keberhasilan belajar. Untuk itu perlu dibuat langkah-langkah pembelajaran agar
tidak terjadi kerancuan dalam kegiatan belajar. Berikut merupakan
langkah-langkah pembelajaran menurut teori Ausubel:
1. Menentukan tujuan pembelajaran.
2. Melakukan identifikasi karakteristik
peserta didik (kemampuan awal, motivasi, gaya belajar, dan sebagainya)
3. Memilih materi pelajaran sesuai
dengan karakteristik peserta didik dan mengaturnya dalam bentuk konsep-konsep
inti.
4. Menentukan topik-topik dan
menampilkannya dalam bentuk advance organizer yang akan dipelajari peserta
didik.
5. Mempelajari konsep-konsep inti
tersebut, dan menerapkannya dalam bentuk nyata/konkret.
6. Melakukan penilaian proses dan hasil
belajar peserta didik.
K.
Kelebihan dan Kelemahan Belajar Bermakna
a. Kelebihan
Belajar Bermakna
Ada tiga kelebihan dari belajar bermakna yaitu :
1. Informasi yang dipelajari secara
bermakna lebih lama diingat.
2. Informasi yang dipelajari secara
bermakna memudahkan proses belajar berikutnya untuk materi pelajaran yang
mirip.
3. Informasi yang dipelajari secara
bermakna mempermudah belajar hal-hal yang mirip walaupun telah terjadi
lupa.
b. Kelemahan
Belajar Bermakna
1. Informasi yang dipelajari secara
hafalan tidak lama diingat.
2. Jika peserta didik berkeinginan
untuk mempelajari sesuatu tanpa mengaitkan hal yang satu dengan hal yang lain
yang sudah diketahuinya maka baik proses maupun hasil pembelajarannya dapat
dinyatakan sebagai hafalan dan tidak akan bermakna sama sekali baginya.
L.
Penerapan Pembelajaran Bermakna
Ausubel
berpendapat bahwa guru harus dapat mengembangkan potensi kognitif peserta didik
melalui proses belajar yang bermakna. Sama seperti Bruner dan Gagne, Ausubel
beranggapan bahwa aktivitas belajar peserta didik, terutama mereka yang berada
di tingkat pendidikan dasar akan bermanfaat kalau mereka banyak dilibatkan
dalam kegiatan langsung. Namun untuk peserta didik pada tingkat pendidikan
lebih tinggi, maka kegiatan langsung akan menyita banyak waktu. Untuk mereka,
menurut Ausubel, lebih efektif kalau guru menggunakan penjelasan, peta konsep,
demonstrasi, diagram, dan ilustrasi. Inti dari teori belajar bermakna Ausubel
adalah proses belajar akan mendatangkan hasil atau bermakna kalau guru dalam
menyajikan materi pelajaran yang baru dapat menghubungkannya dengan konsep yang
relevan yang sudah ada dalam struktur kognisi peserta didik.
Pada
belajar bermakna peserta didik dapat mengasimilasi pada belajar bermakna secara
penerimaan, materi pelajaran disajikan dalam bentuk final, sedangkan pada
belajar bermakna secara penemuan, peserta didik diharapkan dapat menemukan
sendiri informasi konsep atau dari materi pelajaran yang disampaikan. Belajar
bermakna dapat terjadi jika peserta didik mampu mengkaitkan materi pelajaran
baru dengan struktur kognitif yang sudah ada.Struktur kognitif tersebut dapat
berupa fakta-fakta, konsep-konsep maupun generalisasi yang telah diperoleh atau
bahkan dipahami sebelumnya oleh peserta didik. Bruner memandang manusia sebagai
pemproses, pemikir, dan pencipta informasi
Anak harus
mengubah dirinya untuk melakukan hal itu, sebagai contoh, jika seorang anak
menemukan sebuah benda yang menghalangi jalan bagi mainannya (mobil-mobilan
misalnya), anak tersebut menemukan penyelesaian yang membuat dirinya dapat
memudahkan benda yang menghalangi itu dan mainannya dapat berjalan lagi.
Asimilasi di lain pihak, adalah kemampuan anak mengubah untuk memenuhi apa yang
ia imajinasikan. Anak memiliki ide apa yang ia inginkan dan memodifikasi
lingkungan untuk mencapai hal tersebut.
Ia mungkin
melakukan modifikasi melalui aktifitas mental, misalnya seorang anak berumur 4
tahun menganggap sebatang sedotan minuman sebagai tongkat ajaib atau lempengan
plastik dianggapnya sebagi pedang yang ampuh. Namun, dapat juga ia melakukannya
dengan aktifitas fisik, misalnya seorang anak membuat rumah rumahan, sebuah
arca atau sebuah candi dari pasir. Hal ini sering dihubungkan dengan ‘bermain’
(play), yang sangat disukai oleh anak-anak.Memang antarasimilasi dan bermain
terdapat hubungan yang sangat erat.
Kita semua tahu bahwa anak suka
bermain dan asimilasi menjelaskan mekanisme psikologis mengenai hal itu.Dalam
bermain anak-anak mentransformasikan objek-objek untuk memenuhi imajinasi yang
ada pada dirinya. Secara mudah dapat dikatakan bahwa asimilasi melibatkan
proses transformasi pengalaman di dalam pikiran, sedangkan akomodasi melibatkan
proses penyesuaian pikiran terhadap pengalaman yang baru. Pada sembarang
tahapan (stage) perkembangan, akomodasi atau asimilasi salah satu untuk
sementara mendominasi dan baru kemudian digantikan oleh yang lain. Akhirnya
suatu keseimbangan (equilibrium) akan diperoleh (untuk tahapan tertentu)
melalui proses penyeimbangan atau ekuilibrasi (equilibration). Ekuilibrasi
adalah kemampuan anak untuk menyusun dan mengatur.
2.2 Robert Gagne ( 1916-2002 )


A.
Biografi
Robert Mills
Gagne (21 Agustus 1916 – 28 April 2002), Gagne lahir di North Andover Utara,
Massachusetts.Ia mendapatkan gelar A.B dari Universitas Yalepada tahun 1937 dan
gelar Ph.D dari Universitas Brown pada tahun 1940. Dia adalah seorang Professor
dalam bidang psikologi dan psikologi pendidikan di Connecticut College khusus
wanita (1940-1949), Universitas Negara bagian Pensylvania (1945-1946),
Professor di Departemen penelitian pendidikan di Universitas Negara bagian
Florida di Tallahasse mulai tahun 1969.
Gagne juga menjabat sebagai
direktur riset untuk angkatan udara (1949-1958) di Lackland, Texas dan Lowry,
Coloradopada waktu inilah mengembangkan teori “Conditions of Learning” yang
mengarahkan pada hubungan tujuan pembekajaran dan kesesuaiannya dengan desain
pengajaran.Teori ini dipublikasikan pada tahun 1965 (Anonim,1; Gagne,1). Dia
juga dikenal sebagai seorang psikolog eksperimental yang berkonsentrasi pada
belajar dan pengajaran.Pada awal karirnya, Gagne seorang behaviorist.
Kontribusi Gagne dalam bidang pengembangan pengajaran adalah tulisan-tulisannya
tentang: Instructional Systems Design, The Condition of Learning (1965) dan
Princeples of Instructional Design.
Gagne
pernah bekerja sebagai konsultan dari departemen pertahanan (1958-1961) dan
untuk dinas pendidikan Amerika Serikat (1964-1966), selain itu ia juga bekerja
sebagai direktur riset pada Institut penelitianAmerika di Pittsburgh
(1962-1965). Hasil kerja Gagne memiliki pengaruh besar pada pendidikan Amerika
dan pada pelatihan militer dan industri.Gagne dan L. J. Briggs ada diantara
pengembangan awal dari teori desain sistem instruksional yang menunjukkan bahwa
semua komponen dari pelajaran atau periode instruksi dapat dianalisis dan semua
komponen yang dapat dirancang untuk beroperasi bersama-sama sebagai suatu
rencana untuk pengajaran.
Menurut Robert Gagne, belajar dimulai dari
paling sederhana (belajar signal) dilanjutkan pada yang lebih kompleks sampai
pada tipe belajar yang lebih tinggi dan prakteknya tetap mengacu pada asosiasi
stimulus-respon.
B. Teori
Teori Pemrosesan Informasi
Asumsi
yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat
penting dalam perkembangan.Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari
pembelajaran.Gagne menggabungkan ide-ide behaviorisme dan kognitivisme dalam
pembelajaran. Menurut Gagne, dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan
informasi untuk diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil
belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi interaksi antara kondisi internal
dengan kondisi eksternal individu.Kondisi internal adalah keadaan dalam diri
individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang
terjadi di dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari
lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. Kondisi
eksternal ini oleh Gagne disebut sebagai Sembilan peristiwa pembelajaran.
Teori
Robert Gagne tentang pembelajaran terdiri dari tiga prinsip.
1.
Syarat-syarat pembelajaran (conditions of learning)
2.
Sembilan peristiwa pembelajaran (nine events of instructions)
3.
Taksonomi hasil belajar (taxonomy of learning outcomes)
Dalam
bukunya yang berjudul The Conditions of
Learning (1970), Gagne mengemukakan delapan macam tipe belajar yang
membentuk suatu hierarki belajar dari yang paling sederhana sampai dengan yang
paling rumit.Gagne berpendapat bahwa tahapan proses pembelajaran meliputi
delapan fase yaitu: (a) motivasi, (b) pemahaman, (c) pemerolehan, (d) penyimpanan,
( e) pengingatan kembali, (f) generalisasi, (g) perlakuan, dan (h) umpan balik.
Fase-fase Belajar
Menurut Gagne
belajar melalui beberapa fase utama yaitu:
1. Fase Motivasi (motivatim phase)
Siswa
(yang belajar) harus diberi motivasi untuk belajar dengan harapan, bahwa
belajar akan memperoleh hadiah. Misalnya, siswa-siswa dapat
mengharapkan bahwa informasi akan memenuhi keingintahuan mereka tentang
suatu pokok bahasan, akan berguna bagi mereka atau dapat menolong
mereka untuk memperolehangka yang lebih baik.
2. Fase Pengenalan (apperehending
phase)
Siswa
harus memberikan perhatian pada bagian-bagian yang esensial dari suatu kejadian
instruksional, jika belajar akan terjadi. Misalnya, siswa memperhatikan
aspek-aspek yang relevan tentang apa yang ditunjukkan guru, atau tentang
ciri-ciri utama dari suatu bangun datar. Guru dapat memfokuskan perhatian
terhadap informasi yang penting.
3. Fase Perolehan (acquisition
phase)
Bila
siswa memperhatikan informasi yang relevan, maka ia telah siap untuk menerima
pelajaran. Informasi yang disajikan, sudah dikemukakan dalam bab-bab terdahulu,
bahwa informasi tidak langsung disimpan dalam memori.Informasi itu diubah
menjadi bentuk yang bermakna yang dihubungkan dengan informasi yang telah ada
dalam memori siswa.Siswa dapat membentuk gambaran-gambaran mentaldari informasi
itu, atau membentuk asosiasi-asosiasi antara informasi baru dan informasi lama.
Guru dapat memperlancar proses ini dengan penggunaan pengaturan-pengaturan
awal (Ausubel. 1963), dengan membiarkan para siswamelihat atau memanipulasi
benda-benda, atau dengan menunjukkan hubungan-hubungan antara informasi baru
dan pengetahuan sebelumnya.
4. Fase Retensi (retentim phase)
Informasi
yang baru diperoleh harus dipindahkan dari memori jangka pendek ke memori
jangka panjang.Ini dapat terjadi melalui pengulangan kembali (rehearsal),
praktek (practice), elaborasi atau lain-lainnya.
5. Fase Pemanggilan (recall)
Mungkin
saja kita dapat kehilangan hubungan dengan informasi dalammemori jangka
panjang. Jadi bagian penting dalam belajar ialah belajar memperoleh hubungan
dengan apa yang telah kita pelajari, untuk memanggil (recall) informasi yang
telah dipelajari sebelumnya. Hubungan dengan informasi ditolong oleh organisasi
materi yang diatur dengan baik dengan mengelompokkan menjadi kategori-kategori
atau konsep-konsep, lebih mudah dipanggil daripada materi yang disajikan tidak
teratur.Pemanggilan juga dapat ditolong, dengan memperhatikan kaitan-kaitan
antara konsep-konsep, khususnya antara informasi baru dan pengetahuan
sebelumnya.
6.
Fase Generalisasi
Biasanya
informasi itu kurang nilainya jika tidak dapat diterapkan di luar konteks
dimana informasi itu dipelajari.Jadi, generalisasi atau transfer
informasi pada situasi-situasi baru merupakan fase kritis dalam belajar.
Transfer dapat ditolongdengan meminta para siswa menggunakan
keterampilan-keterampilan berhitung baruuntuk memecahkan masalah-masalah nyata,
setelah mempelajari pemuaian zat,mereka dapat menjelaskan mengapa botol yang
berisi penuh dengan air dan tertutup,menjadi retak dalam lemari es.
7. Fase Penampilan
Para
siswa harus memperlihatkan, bahwa mereka telah belajar sesuatumelalui
penampilan yang tampak. Misalnya, setelah
mempelajari bagaimana menggunakan busur derajat
dalam pelajaran matematika, para siswa dapat mengukur besar
sudut. Setelah mempelajari penjumlahan bilangan bulat, siswa dapatmenjumlahkan
dua bilangan yang disebutkan oleh temannya.
8. Fase Umpan Balik
Para
siswa harus memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka, yangmenunjukkan
apakah mereka telah atau belum mengerti tentang apa yang diajarkan.Umpan balik
ini dapat memberikan reinforsemen pada mereka untuk penampilan yang berhasil.
Sembilan
peristiwa pembelajaran menurut Gagne adalah sebagai berikut.
1)
Memberikan perhatian (gain attention). Contoh sederhana tunjukkan selai strawberry,
ceritakan kelezatan yang diperoleh dari memakannya.
2)
Memberi tahu siswa tentang tujuan pembelajaran (inform learner of objectives), biarkan
siswa mengetahui apa yang akan dipelajarinya. Contohnya “Hari ini kita akan
belajar membuat selai strawberry”.
3)
Dibangun atas pengetahuan yang telah lalu (recall prior knowledge). Contohnya
“Apakah ada yang pernah membuat selai strawberry? Di mana, kapan, dan bahan apa
saja yang diperlukan?”
4)
Menyajikan pembelajaran sebagai rangsangan (present
material). Contoh: Tunukkan kepada siswa bagaimana membuat selai strawberry.
5)
Memberikan panduan belajar (provide guided learning), bantulah siswa agar dapat mengetahui
pembelajaran dengan baik pada saat pembelajaran berlangsung.
6)
Menampilkan kinerja (elicit performance), mintalah para siswa mengerjakan apa-apa yang
baru dipelajarinya. Contoh, berikan kepada siswa bahan-bahan untuk membuat
selai strawberry dan mintalah agar membuat selai strawberry sendiri.
7)
Memberikan umpan balik (provide feedback), beritahu siswa kinerjanya masing-masing. Contoh,
guru berkeliling kelas melihat bagaimana setiap siswa membuat selai strawberry.
8)
Menilai kinerja (assess
performance), nilailah siswa tentang pengetahuannya mengenai topic
pembelajaran. Contoh, amati selai strawberry hasil karya siswa, jika mereka
benar cara membuatnya diperbolehkan memakannya.
9)
Meningkatkan ingatan dan transfer pengetahuan (enhance retention and transfer).
Bantulah siswa dalam mengingat-ingat dan menerapkan keterampilan baru itu.
Contoh, siswa ditugasi membuat selai strawberry pada saat karya wisata sekolah.
Sembilan
peristiwa pembelajaran oleh Gagne tersebut secara tidak langsung juga telah
menggambarkan langkah-langkah pembelajaran menurut Gagne.
Dalam taksonomi hasil belajar Gagne
mengidentifikasikan adanya lima kategori belajar, seperti tercantum dalam table
berikut.
|
Taksonomi Hasil Belajar
|
Contoh tindakan Khusus
|
|
Informasi verbal
|
Mengungkapkan materi pembelajaran
yang baru dipelajari seperti fakta-fakta, konsep, prinsip dan prosedur,
misalnya menyebutkan gejala orang yang terserang DBD
|
|
Keterampilan Intelektual
(Diskriminasi, Konsep Konkret, Konsep Terdefinisikan, Hukum-hukum,
Hukum-hukum Tingkat Tinggi)
|
· Diskriminasi: membedakan objek, fitur atau symbol,
misalnya mendengarkan permainan instrument yang pitchnya berbeda.
· Konsep Konkret: mengidentifikasi kelas suatu objek,
fitur atau kejadian konkret, misalnya mengambil seluruh permen berwarna hijau
dari sekaleng permen.
· Konsep Terdefinisikan: menggolongkan contoh-contoh
baru dari suatu kejadian atau gagasan berdasarkan definisinya, misalnya
menandai frasa si Mak (emak) dengan simak sebagai aliterasi (sama bunyinya).
· Hukum: menggunakan suatu hubungan tunggal untuk
menyelesaikan sekelompok masalah. Misalnya menggunakan hukum Newton 1 untuk
menyelesaikan berbagai soal fisika.
· Hukum Tingkat Tinggi: menerapkan berbagai kombinasi
baru untuk menyelesaikan masalah yang kompleks. Misalnya menggunakan hukum
kekekalan massa, hukum Dalton, hukum Avogadro untuk menyelesaikan soal
hitungan kimia.
|
|
Strategi kognitif
|
Menerapkan cara personal untuk
memandu belajar, berpikir, tindakan, dan merasakan. Contoh, menyusun suatu
rencana prusahaan untuk meningkatkan hubungan dengan pelanggan.
|
|
Sikap
|
Memilih tindakan personal yang
dilandasi oleh status internal dari pemahaman dan kemampuan merasakan,
misalnya menetapkan untuk berolahraga setiap hari sebagai bahan dari usaha
kesehatan preventif.
|
|
Keterampilan Motorik
|
Melaksanakan kinerja yang
melibatkan aktivitas otot-otot, seperti berenang, lompat tinggi, berlari,
angkat besi, dan lain-lain.
|
Pengembangan
lima kategori utama belajar tersebut di atas ditengarai berimplikasi terhadap
hal-hal sebagai berikut:
v
Hasil belajar yang berbeda memerlukan cara mengajar
yang berbeda pula, dengan kata lain guru harus mampu melaksanakan variasi dalam
pembelajaran;
v
Agar berlangsung peristiwa belajar, harus dihadirkan
kondisi pembelajaran tertentu, atmosfer pembelajaran harus didesain sedemikian
rupa sehingga timbul keberanian siswa untuk merealisasikan ide kreatifnya;
v
Diperlukan tindakan-tindakan khusus yang menyusun
kegiatan pengajaran yang berbeda untuk setiap jenis hasil pembelajaran yang
berbeda pula.
Delapan Tipe Belajar
|
No.
|
Tipe Belajar
|
Hasil Belajar
|
Contoh Prestasi
|
|
1.
|
Belajar sinyal (signal learning)
|
Memberikan reaksi pada perangsang
(S-R)
|
Guru sejarah yang galak ditakuti siswa-siswa tidak senang pada sejarah.
|
|
2.
|
Belajar stimulus respon (stimulus response learning)
|
Memberikan reaksi pada perangsang (S- R)
|
Guru memuji tindakan siswa- cenderung siswa
mengulang.
|
|
3
|
Belajar merangkai tingkah laku (behavior chaining learning)
|
Menghubungkan gerakan yang satu dengan yang lain
|
Membuka pintu mobil-dudukkontrol persenelling-menghidupkan
mesin-mene-kan kopling-pasang perseneling1- menginjak gas
|
|
4
|
Belajar asosiasi verbal (verbal chaining learning)
|
Memberikan reaksi verbal pada stimulus-/perangsang.
|
Nomor teleponmu?
(021) 617812
|
|
5
|
Belajar diskriminasi(discrimination learning)
|
Memberikan reaksi yang berbeda pada stimulus- stimulus yang mempunyai
kesamaan.
|
Menyebutkan merek mobil-mobil yang lewat di jalan
|
|
6
|
Belajar konsep (concept learning)
|
Menempatkan obyek-obyek dalam kelompok tertentu
|
Manusia, ikan paus, kera, anjing adalah mahkluk menyusui.
|
|
7
|
Belajar kaidah (rule learning)
|
Menghubungkan beberapa konsep
|
Benda yang bulat berguling pada alas yang miring.
|
|
8
|
Belajar memecahkan masalah (problem solving)
|
Mengembangkan beberapa kaidah menjadi prinsip pemecahan masalah.
|
Menemukan cara memperoleh energi dari tenaga atom, tanpa mencemarkan
lingkungan hidup.
|
Dengan demikian, ada beberapa prinsip pembelajaran
dari teori Gagne, yaitu antara lain berkaitan dengan:
(a)
perhatian dan motivasi belajar peserta didik,
(b)
keaktifan belajar dan keterlibatan langsung/pengalaman dalam belajar,
(c)
pengulangan belajar,
(d)
tantangan semangat belajar,
(e)
pemberian balikan dan penguatan belajar, serta
(f) adanya
perbedaan individual dalam perilaku belajar.
Selain itu, yang terpenting menurut Gagne adalah penciptaan
kondisi belajar, termasuk lingkungan belajar, khususnya kondisi yang berbasis
media, yaitu meliputi jenis penyajian yang disampaikan kepada peserta didik
dengan penjadwalan, pengurutan dan pengorganisasiannya (Gagne, 1990 : 3). Semua ini akan berpengaruh
atau berimplikasi pada pengembangan Pusat Sumber Belajar (PSB) atau Learning
Resource Center (LRC).
Selain itu,
teori pembelajaran Gagne menekankan pada prosedur pembelajaran yang telah
terbukti berhasil meningkatkan kualitas pembelajaran yaitu:
1. Belajar
merupakan suatu kumpulan proses yang bersifat individu, yang merubah stimuli
yang datang dari lingkungan seseorang ke dalam sejumlah informasi yang
selanjutnya dapat menyebabkan adanya hasil belajar dalam bentuk ingatan jangka
panjang. Hasil-hasil belajar ini memberikan kemampuan melakukan berbagai
penampilan;
2. Kemampuan yang
merupakan hasif belajar ini dapat dikategorikan bersifat praktis dan teoritis.
3. Peristiwa-peristiwa
di dalam pembelajaran yang mempengaruhi proses belajar dapat dikelompokkan ke
dalam kategori umum, tanpa memperhatikan hasil belajar yang diharapkan. Namun
tiap-tiap hasil belajar memerlukan adanya peristiwa-peristiwa khusus untuk
dapat terbentuk (Gagne, 1985).
Dari uraian di
atas tampak bahwa teori pembelajaran merupakan suatu kumpulan prinsip yang
terintegrasi dan memberikan deskripsi (petunjuk) untuk mengatur kondisi agar
peserta didik mudah belajar dalam mencapai tujuan pembelajaran.Prinsip-prinsip
pembelajaran dapat diterapkan dalam pembelajaran tatap muka di kelas
maupunpembelajaran terbuka/jarak jauh, pembelajaran terprogram, dan lain-lain.Teori
pembelajaran juga memberi arahan dalam memilih metode pembelajaran yang paling
tepat untuk suatu pembelajaran tertentu.
Faktor-Faktor
Determinan Yang Mempengaruhi Masalah/Kesulitan Belajar
Dalam bukunya yang berjudul “The Conditions of Learning” (1965), Gagnemengidentifikasikan mengenai
kondisi mental seseorang agar siap untuk belajar. Ia mengemukakan apa yang
dinamakan dengan ”nine events of instruction” atau sembilan langkah/peristiwa
belajar. Sembilan langkah/ peristiwa ini merupakan tahapan-tahapan yang
berurutan di dalam sebuah proses pembelajaran. Tujuannya adalah memberikan
kondisi yang sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran dapat berjalan secara
efektifdan efisien. Agar kesembilan langkah/peristiwa itu berarti dan memberi
makna yang dalam bagi siswa, maka guru harus melakukan apa yang memang harus
dilakukan. Dengan kata lain menyediakan suatu pengalaman belajar atau apapun
namanya agar kondisi mental siswa itu terus terjaga untuk kepentingan proses
pembelajaran.
Apa yang dikemukan oleh Gagne itu akan berarti jika
kita (guru) mampu menyediakan sesuatu (materi, sumber belajar, pengalaman
belajar, aktivitas, dll.) yang memang dibutuhkan.
Tabel berikut ini memperjelas bagaimana kesembilan
peristiwa belajar dan pembelajaran itu menjadi berarti karena proses mental
yang seharusnya ada pada diri siswa telah difasilitasi oleh guru dengan
langkah/tindakan kongrit. Jika diperhatikan secara mendalam, tabel di atas yang
mencoba memperjelas penerapan model “nine events of instruction” yang
dikemukakan oleh Gagne sudah mengimplementasikan teori pembelajaran yang
bersifat perspektif dan teori belajar yang bersifat deskriptif. Dan yang paling
esensial adalah bahwa di dalam proses pembelajaran guru harus paham benar
seperti apa proses mental yang ada dalam diri siswa. Ketika guru menyadari akan
hal itu, maka dengan mudah guru dapat memfasilitasi berbagai pengalaman belajar
seperti apa yang cocok agar proses mental siswa tersebut terus berkembang.
|
LANGKAH
PEMBELAJARAN
|
PROSES MENTAL
SISWA
|
YANG DILAKUKAN
GURU
|
|
|
Menarik perhatian siswa
|
Merangsang dayapenerimaan
siswa.
Menciptakan curiosity
siswa.
|
Menciptakan efek-efek
suara tertentu.
Mengajukan pertanyaan
yang menantang.
|
|
|
Menyampaikan kepada siswa
tentang tujuan pembelajaran
|
Membuat/menentukan
tingkat harapan yang akan dicapai selama belajar.
|
Menguraikan tujuan pada
awal pelajaran, secara lisan maupun tertulis.
|
|
|
Menstimulir/atau
memanggil terlebih dahulu informasi atau pengetahuan yang sudah diperoleh
sebelum proses pengajaran
|
Mendapatkan kembali
atau dan menggiatkan short-term memori siswa.
|
Bertanya, berdiskusi, melihat
gambar/video, mendengarkan cerita sesuai topik yang dipelajari.
|
|
|
Menyajikan isi
pembelajaran
|
Siswa secara
selektifmenanggapi isi pelajaran.
|
Menyampaikan materi
pembelajaran dengan menggunakan berbagai metode, pendekatan, strategi, dan
alat bantu pelajaran.
|
|
|
Menyediakan pedoman atau
petunjuk belajar
|
Siswa menulis berbagai
hal untuk disimpan pada memori supaya bertahan lama.
|
Menyediakan
pedomanpetunjuk belajar yang praktis
|
|
|
Memberi kesempatanuntuk
latihan/unjuk performance
|
Merespons pertanyaan,
tugas, latihan, dll.
|
Memberi pertanyaan, tugas,
latihan yang harus dilaksanakan.
|
|
|
Memberi umpan balik
|
Mengetahui tingkatpenguasaan materi dan tingkat kebenaran tugas yang dikerjakan.
|
Memberi penguatan/ memuji.
|
|
|
Melakukan penilaian
|
Mendapatkan/mempertegas
kembali isi pelajaran sebagai bahan evaluasi akhir
|
Melakukan penilaian
|
|
|
Mengekalkan dan
mengembangkan pengetahuan dan kemahiran siswa
|
Berlatih, mempraktikkanapa
yang telah diperolehnya(kognitif, afektif, psikomotorik) dalam situasi yang
baru.
|
Menyediakan kesempatan
yang luas bagi siswa untuk memanfaatkan berbagai pengetahuan,
sikap, dan keterampilan tersebut dalam situasi yang berbeda (praktikum,
unjuk kerja, project, simulasi, dll).
|
|
|
|
|||
Kelebihan dan kekurangan
Teori Gagne
Kelebihannya :
- Gagne disebut sebagai modern noebehaviouristik mendorong guru untuk merencanakan pembelajaran agar suasana dan gaya belajar dapat dimodifikasi.
- Sangat cocok untuk memperoleh kemampuan yang membutuhkan praktek dan kebiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti kecepatan spontanitas kelenturan reflek, dan daya tahan Contoh : Percakapan bahasa Asing, menari, mengetik, olah raga, dll.
- Cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominasi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi hadiah atau pujian.
- Dapat dikendalikan melalui cara mengganti mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya.
·
Dengan menggunakan teori
pemprosesan informasi akan membantu meningkatkan keaktifan siswa untuk
berfikir.
Kekurangannya:
- Pembelajaran siswa yang berpusat pada guru (teacher centered learning), dimana guru bersifat otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid.
- Bersifat meanistik
- Hanya berorientasi pada hasil yang diamati dan diukur
- Murid hanya mendengarkan dengan tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif
·
Apabila seorang guru tidak
mampu menyampaikan meteri pembelajaran serta tidak dapat menciptakan metode
pembelajaran yang menarik perhatian siswa, maka proses pembelajaran akan terasa
membosankan.
Daftar
Pustaka
Burhanuddin,Afid.2014.Kekurangan dan Kelebihan Teori Pemprosesan
Informasi dan Teori Kinerja Otak.https://afidburhanuddin.wordpress.com/2014/05/19/
kekurangan-dan-kelebihan-teori-pemrosesan-informasi-dan-teori-kinerja-otak/
(diakses pukul 12.04, 25 september 2015)
Dani.2012.Teori Gagne dan Paham Konstruktivisme.http://krisdaning217.blogspot.co.id
/2012/04/ teori-gagne-dan-paham konstruktivisme.html
(diakses pukul 13.00, 22 september 2015)
Kafabijh,Shofye.2013.Teori Belajar Aliran Psikologi Tingkah. http://shofyencute.blogspot.co.id/2013/02/teori-belajar-aliran-psikologi-tingkah.html
(diakses pukul 12.02, 25 september 2015)
Pendidikan adalah hidupku. 2014.Implementasi Penerapan Teori Gagne. http://suksespend.blogspot.co.id/2009/06/implementasipenerapan-teori-gagne-dalam.html
(diakses pukul 12.50, 22 september 2015)
Robiah.(2011). Teori
Ausubel.http://http://robiah252.blogspot.co.id/2012/12/makalah-ausubel.html. (diakses pada tanggal 25 September 2015)
Salim, Asbar. (2015). Teori Belajar David Ausubel.http://asbarsalim009.blogspot.co.id/2015/01/ teori-belajar-david-ausubel.html. (diakses pada tanggal 25 September 2015)
Suharjana, Rahmat.2012.Riwayat Hidup Robert M Gagne. http://rahmatsuharjana.blogspot.co.id/2012/09/riwayat-hidup-robert-mills-gagne.html
(diakses pukul 12.19, 22 september 2015)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar