Kamis, 17 Desember 2015

Psikologi Pembelajran Matematika



MAKALAH
“TOKOH-TOKOH PSIKOLOGI PENDIDIKAN”
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata KuliahPsikologi Pendidikan
Dosen pengampu : Niken Wahyu Utami, M.Pd


Disusun oleh
Citra Murti Anggraini          (14144100078)
Syitoh Noviani                       (14144100102)
Elga Dian Pertiwi                  (14144100108)
Retno Argianti                       (14144100146)
Kelas : 3A3

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA
2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan laporan berjudul “Makalah Psikologi Pendidikan Tokoh-tokoh Pendidikan” dengan lancar.Penulisan laporan ini merupakan kewajiban dan sebagai tugas Psikologi Pendidikan mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta yang kami ajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam penilaian.
Kami menyadari bahwa dalam penyelesaian laporan ini, kami banyak mendapatkan bimbingan dan nasehat, serta bantuan dari berbagai pihak. Berkaitan dengan hal tersebut kami mengaturkan banyak terima kasih kepada
1. Niken Wahyu Utami, M.Pd. yang sudah memberikan bimbingan dan pengarahan kepada saya,
2. bapak dan ibunda kami tercinta, terimakasih untuk nasehat-nasehatnya,
3. teman-teman 3A3 terimakasih atas bantuannya,
4. dan semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu yang telah memberikan bantuan dalam penyusunan laporan ini.
Kami menyadari sepenuhnya dalam penyusunan laporan ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami terus menunggu saran dan kritik yang sifatnya membangun dan positif. Semoga hasil laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan pihak yang berkepentingan.

Yogyakarta, 25 September 2015

Penyusun

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 David Paul Ausubel
https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcShMwljupjEESkWEyuUEyz5ptV6jstMaHX5ucB35OsLbuZpoB4j

A.    Biografi David Paul Ausubel
Ausubel lahir pada tanggal 25 Oktober 1918 dan dibesarkan di Brooklyn, New York. Ia belajar di Universitas Pennsylvania di mana ia lulus dengan pujian pada tahun 1939, menerima sarjana jurusan Psikologi. Ausubel kemudian lulus dari sekolah kedokteran pada tahun 1943 di Middlesex University di mana ia melanjutkan untuk menyelesaikan magang berputar di Rumah Sakit Gouveneur, yang terletak di sisi timur lebih rendah dari Manhattan, New York Setelah dinas militer dengan US Public Health Service,. Ausubel meraih MA dan Ph.D. dalam Psikologi Perkembangan dari Columbia University pada tahun 1950.
Dia terus mengadakan serangkaian profesor di beberapa sekolah pendidikan.
Pada tahun 1973, Ausubel pensiun dari kehidupan akademik dan mengabdikan dirinya untuk praktek psikiatri nya. Selama praktek psikiatri nya, Ausubel menerbitkan banyak buku serta artikel dalam jurnal psikiatri dan psikologi. Pada tahun 1976, ia menerima Thorndike Award dari American Psychological Association untuk "Distinguished Kontribusi Psikologis Pendidikan".  Pada usia 75 pada tahun 1994, Ausubel pensiun dari kehidupan profesional untuk mengabdikan dirinya penuh waktu untuk menulis, yang empat buku yang dihasilkan. Dia menulis empat buku. Ausubel meninggal pada tanggal 9 Juli 2008. Ausubel dan istrinya Pearl memiliki dua anak, Fred dan Laura Ausubel.
Ausubel dipengaruhi oleh ajaran Jean Piaget.  Mirip dengan ide-ide Piaget skema konseptual,  Ausubel terkait ini untuk penjelasan tentang bagaimana orang memperoleh pengetahuan. "David Ausubel berteori bahwa orang memperoleh  pengetahuan terutama oleh yang terkena langsung ke sana daripada melalui penemuan" (Woolfolk et al., 2010, hal. 288).

B.     Pengertian Belajar Bermakna
Menurut David P. Ausubel, ada dua jenis belajar :
1.      Belajar Bermakna (Meaningfull Learning)
Belajar dikatakan bermakna bila informasi yang akan dipelajari peserta didik disusun sesuai dengan struktur kognitif yang dimiliki peserta didik itu sehingga peserta didik itu dapat mengaitkan informasi barunya dengan struktur kognitif yang dimilikinya. Sehingga peserta didik menjadi kuat ingatannya dan transfer belajarnya mudah dicapai. Struktur kognitif dapat berupa fakta-fakta, konsep-konsep maupun generalisasi yang telah diperoleh atau bahkan dipahami sebelumnya oleh siswa.
2.      Belajar Menghafal (Rote Learning)
Bila struktur kognitif  yang cocok dengan fenomena baru itu belum ada maka informasi baru tersebut harus dipelajari secara menghafal. Belajar menghafal ini perlu bila seseorang memperoleh informasi baru dalam dunia pengetahuan yang sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang ia ketahui sebelumnya.
Belajar dengan  menerima dan belajar melalui penemuan kedua-duanya bisa menjadi belajar dengan menghafal atau belajar dengan pengertian. Kalau seorang anak belajar teorema Phytagoras lengkap hingga rumusnya dengan cara menerima, selanjutnya rumus itu selalu dikaitkan dengan hubungan antara ukuran sisi siku-siku dan sisi miring segitiga siku-siku, maka belajar menerima itu menjadi belajar dengan pengertian. Juga, bila seorang peserta didik memperoleh teorema Phytagoras itu melalui penemuan dan kemudian rumusnya selalu dikaitkannya dengan hubungan antara ukuran sisi siku-siku dengan sisi miring segitiga siku-siku, maka belajar dengan penemuan itu menjadi belajar dengan pengertian. Jika dua orang peserta didik belajar ; seorang belajar dengan menerima dan yang seorang lagi belajar dengan penemuan, tetapi selanjutnya mereka hanya menghafal bentuk akhir itu sebagai aturan untuk melakukan pembagian dengan pecahan, maka belajar mereka akhirnya hanya belajar menghafal saja.

C.    Dua Dimensi Belajar Bermakna Menurut Ausubel
Menurut Ausubel belajar dapat diklasifikasikan kedalam dua dimensi. Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran itu disajikan kepada peserta didik melalui penerimaan atau penemuan. Selanjutnya dimensi kedua menyangkut bagaimana peserta didik dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada.Jika peserta didik hanya mencoba menghafalkan informasi baru itu tanpa menghubungkan dengan struktur kognitifnya, maka terjadilah belajar dengan hafalan.Sebaliknya jika peserta didik menghubungkan atau mengaitkan informasi baru itu dengan struktur kognitifnya maka yang terjadi adalah belajar bermakna.

D.    Empat Tipe Belajar Menurut Ausubel
1.      Belajar dengan penemuan yang bermakna
Informasi yang dipelajari, ditentukan secara bebas oleh peserta didik.Peserta didik itu kemudian menghubungkan pengetahuan yang baru itu dengan struktur kognitif yang dimiliki.Misalnya peserta didik diminta menemukan sifat-sifat suatu bujur sangkar.Dengan mengaitkan pengetahuan yang sudah dimiliki, seperti sifat-sifat persegi panjang, peserta didik dapat menemukan sendiri sifat-sifat bujur sangkar tersebut.
2.      Belajar dengan penemuan tidak bermakna
Informasi yang dipelajari, ditentukan secara bebas oleh peserta didik, kemudian ia menghafalnya. Misalnya, peserta didik menemukan sifat-sifat bujur sangkar tanpa bekal pengetahuan sifat-sifat geometri yang berkaitan dengan segiempat dengan sifat-sifatnya, yaitu dengan penggaris dan jangka.Dengan alat-alat ini diketemukan sifat-sifat bujur sangkar dan kemudian dihafalkan.
3.      Belajar menerima yang bermakna
Informasi yang telah tersusun secara logis di sajikan kepada peserta didik dalam bentuk final/ akhir, peserta didik kemudian menghubungkan pengetahuan yang baru itu dengan struktur kognitif yang dimiliki. Misalnya peserta didik akan mempelajari akar-akar persamaan kuadrat. Pengajar mempersiapkan bahan-bahan yang akan diberikan yang susunannya diatur sedemikian rupa sehingga materi persamaan  kuadrat tersebut dengan mudah ter’tanam’ kedalam konsep persamaan yang sudah dimiliki peserta didik. Karena pengertian persamaan lebih inklusif dari pada persamaan kuadrat, materi persamaan tersebut dapat dipelajari peserta didik secara bermakna.
4.      Belajar menerima yang tidak bermakna
Dari setiap tipe bahan yang disajikan kepada peserta didik dalam bentuk final.Peserta didik tersebut kemudian menghafalkannya.Bahan yang disajikan tadi tanpa memperhatikan pengetahuan yang dimiliki peserta didik.

E.     Prasyarat Belajar Bermakna
a.       Kondisi dan sikap peserta didik terhadap tugas, hendaknya bersesuaian dengan intensi peserta didik. Apabila peserta didik melaksanakan tugas dengan sikap bahwa ia ingin memahami bahan pelajaran dan mengaplikasikan bahan baru serta menghubungkan bahan pelajaran yang terdahulu, dikatakan peserta didik itu belajar bahan baru dengan cara yang bermakna. Sebaliknya bila peserta didik itu tidak berkehendak mengaitkan bahan yang dipelajari dengan informasi yang dimiliki, maka belajar itu tidak bermakna. Demikianlah banyak peserta didik yang tidak berusaha mengerti matematika, cenderung mengalami kegagalan dan akhirnya membenci matematika.
b.      Tugas-tugas yang diberikan kepada peserta didik harus sesuai dengan struktur kognitif peserta didik sehingga peserta didik tersebut dapat mengasimilasi bahan baru secara bermakna. Belajar bermakna pada tahap mula-mula memberikan pengertian kepada bahan baru sehingga bahan baru itu akan terserap dan kemudian diingat peserta didik. Ia tidak menghafal asosiasi stimulus-respon yang terpisah-pisah.
c.       Tugas-tugas yang diberikan haruslah sesuai dengan tahap perkembangan intelektual peserta didik. Peserta didik yang masih di dalam periode operasi konkrit, bila diberi bahan materi matematika yang abstrak tanpa contoh-contoh konkrit dari materi tersebut, akan mengakibatkan peserta didik itu tidak mempunyai keinginan materi tersebut secara bermakna. Dengan demikian peserta hanya menghafal pelajaran tadi tanpa pengertian sehingga peserta didik mempelajari matematika dengan pernyataan- pernyataan herbal yang tidak cermat dan tepat.

F.     Prinsip-prinsip Teori Belajar Bermakna
1.      Pengatur awal (advance organizer)
Pengatur awal atau bahan pengait dapat digunakan guru dalam membantu mengaitkan konsep lama dengan konsep baru yang lebih tinggi maknanya.Penggunaan pengatur awal tepat dapat meningkatkan pemahaman berbagai macam materi, terutama materi pelajaran yang telah mempunyai struktur yang teratur. Pada saat mengawali pembelajaran dengan prestasi suatu pokok bahasan sebaiknya “pengatur awal” itu digunakan, sehingga pembelajaran akan lebih bermakna.
2.      Diferensiasi progresif
Dalam proses belajar bermakna perlu ada pengembangan dan kolaborasi konsep-konsep. Caranya unsur yang paling umum dan inklusif diperkenalkan dahulu kemudian baru yang lebih mendetail, berarti proses pembelajaran dari umum ke khusus.
3.      Belajar superordinate
Belajar superordinat adalah proses struktur kognitif yang mengalami pertumbuhan kearah deferensiasi, terjadi sejak perolehan informasi dan diasosiasikan dengan konsep dalam struktur kognitif tersebut. Proses belajar tersebut akan terus berlangsung hingga pada suatu saat ditemukan hal-hal baru. Belajar superordinat akan terjadi bila konsep-konsep yang lebih luas dan inklusif.
4.      Penyesuaian Integratif
Pada suatu saat peserta didik kemungkinan akan menghadapi kenyataan bahwa dua atau lebih nama konsep digunakan untuk menyatakan konsep yang sama atau bila nama yang sama diterapkan pada lebih satu konsep. Untuk mengatasi pertentangan kognitif itu, Ausubel mengajukan konsep pembelajaran penyesuaian integratif.Caranya materi pelajaran disusun sedemikian rupa, sehingga guru dapat menggunakan hierarkhi-hierarkhi konseptual ke atas dan ke bawah selama informasi disajikan.

G.    Menghindari Belajar Hafalan
Jika seorang anak berkeinginan untuk mengingat sesuatu tanpa mengaitkan hal yang satu dengan hal yang lain maka baik proses maupun hasil pembelajarannya dapat dinyatakan sebagai hafalan dan tidak akan bermakna sama sekali baginya.
Contoh lain yang dapat dikemukakan tentang belajar hafalan ini adalah beberapa siswa SD kelas 1 atau 2 yang dapat mengucapkan: “Ini Budi. Ini Ibu Budi,” namun ia tidak dapat menentukan sama sekali mana yang “i” dan mana yang “di”. Contoh lain dari belajar menghafal adalah siswa yang dapat mengingat dan menyatakan rumus luas persegi panjang adalah l = p × l, namun ia tidak bisa menentukan luas suatu persegi panjang karena ia tidak tahu arti lambang l, p, dan l.
Setelah itu, si anak harus mampu mengaitkan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang sudah dipunyainya, sehingga proses pembelajarannya menjadi bermakna..
” Jelaslah bahwa pengetahuan yang sudah dimiliki siswa akan sangat menentukan berhasil tidaknya suatu proses pembelajaran. Untuk menjelaskan tentang belajar bermakna ini, perhatikan tiga bilangan berikut.
Menurut Anda, dari tiga bilangan berikut: 
a.       50, 471, 198
b.      54, 918, 071
c.       17, 081, 945
Manakah yang lebih mudah dipelajari atau diingat para siswa?Seorang siswa dapat saja mengingat ketiga bilangan tersebut yaitu dengan mengucapkan bilangan tersebut berulang-ulang beberapa kali. Namun sebagai warga bangsa Indonesia tentunya Bapak dan Ibu Guru akan meyakini bahwa bilangan (c) yaitu 17.081.945 merupakan bilangan yang paling mudah dipelajari jika bilangan tersebut dikaitkan dengan tanggal 17 – 08 – 1945 yang merupakan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Proses pembelajaran bilangan 17.081.945 (tujuh belas juta delapan puluh satu ribu sembilan ratus empat puluh lima) akan bermakna bagi siswa hanya jika si siswa, dengan bantuan gurunya, dapat mengaitkannya dengan tanggal keramat 17 Agustus 1945 yang sudah ada di dalam kerangka kognitifnya. 
Bilangan (b) yaitu 54.918.071 akan lebih mudah dipelajari siswa daripada bilangan (a) yaitu 50.471.198 karena bilangan (b) didapat dari tanggal 17–08–1945 dalam urutan terbalik yaitu 5491–80–71.
Bilangan (a) merupakan bilangan yang paling sulit untuk dipelajari karena aturan atau polanya belum diketahui. Contoh di atas menunjukkan bahwa suatu proses pembelajaran akan lebih mudah dipelajari dan dipahami siswa jika para guru mampu dalam memberi kemudahan bagi siswanya sedemikian sehingga para siswa dapat mengaitkan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya. Itulah inti dari belajar bermakna (meaningful learning) yang telah digagas David P Ausubel.

H.    Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Belajar Bermakna
Faktor-faktor utama yang mempengaruhi belajar bermakna menurut Ausubel adalah struktur kognitif yang ada, stabilitas, dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu dan pada waktu tertentu. Sifat-sifat struktur kognitif menentukan validitas dan kejelasan arti-arti yang timbul waktu informasi baru masuk ke dalam struktur kognitif itu; demikian pula sifat proses interaksi yang terjadi. 
Jika struktur kognitif itu stabil, dan diatur dengan baik, maka arti-arti yang sahih dan jelas atau tidak meragukan akan timbul dan cenderung bertahan. Tetapi sebaliknya jika struktur kognitif itu tidak stabil, meragukan, dan tidak teratur, maka struktur kognitif itu cenderung menghambat belajar dan retensi.

I.       Kondisi-kondisi Belajar Bermakna
1.      Menjelaskan hubungan atau relevansi bahan- bahan baru dengan bahan- bahan lama.
2.      Lebih dahulu diberikan ide yang paling umum dan kemudian hal- hal yang lebih terperinci.
3.      Menunjukkan persamaan dan perbedaan antara bahan baru dengan bahan lama.
4.      Mengusahakan agar ide yang telah ada dikuasai sepenuhnya sebelum ide yang baru disajikan.



J.      Langkah-langkah Pembelajaran
Sebelum dimulainya suatu proses belajar, maka penting untuk memperhatikan apa-apa saja yang telah diketahui siswa, sebab ini merupakan faktor dalam mempengaruhi keberhasilan belajar. Untuk itu perlu dibuat langkah-langkah pembelajaran agar tidak terjadi kerancuan dalam kegiatan belajar. Berikut merupakan langkah-langkah pembelajaran menurut teori Ausubel:
1.      Menentukan tujuan pembelajaran.
2.      Melakukan identifikasi karakteristik peserta didik (kemampuan awal, motivasi, gaya belajar, dan sebagainya)
3.      Memilih materi pelajaran sesuai dengan karakteristik peserta didik dan mengaturnya dalam bentuk konsep-konsep inti.
4.      Menentukan topik-topik dan menampilkannya dalam bentuk advance organizer yang akan dipelajari peserta didik.
5.      Mempelajari konsep-konsep inti tersebut, dan menerapkannya dalam bentuk nyata/konkret.
6.      Melakukan penilaian proses dan hasil belajar peserta didik.

K.    Kelebihan dan Kelemahan Belajar Bermakna
a.       Kelebihan Belajar Bermakna
Ada tiga kelebihan dari belajar bermakna yaitu :
1.      Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama diingat.
2.      Informasi yang dipelajari secara bermakna memudahkan proses belajar berikutnya untuk materi pelajaran yang mirip.
3.      Informasi yang dipelajari secara bermakna mempermudah belajar hal-hal yang mirip walaupun telah terjadi lupa.
b.      Kelemahan Belajar Bermakna
1.      Informasi yang dipelajari secara hafalan tidak lama diingat.
2.      Jika peserta didik berkeinginan untuk mempelajari sesuatu tanpa mengaitkan hal yang satu dengan hal yang lain yang sudah diketahuinya maka baik proses maupun hasil pembelajarannya dapat dinyatakan sebagai hafalan dan tidak akan bermakna sama sekali baginya.

L.     Penerapan Pembelajaran Bermakna
Ausubel berpendapat bahwa guru harus dapat mengembangkan potensi kognitif peserta didik melalui proses belajar yang bermakna. Sama seperti Bruner dan Gagne, Ausubel beranggapan bahwa aktivitas belajar peserta didik, terutama mereka yang berada di tingkat pendidikan dasar akan bermanfaat kalau mereka banyak dilibatkan dalam kegiatan langsung. Namun untuk peserta didik pada tingkat pendidikan lebih tinggi, maka kegiatan langsung akan menyita banyak waktu. Untuk mereka, menurut Ausubel, lebih efektif kalau guru menggunakan penjelasan, peta konsep, demonstrasi, diagram, dan ilustrasi. Inti dari teori belajar bermakna Ausubel adalah proses belajar akan mendatangkan hasil atau bermakna kalau guru dalam menyajikan materi pelajaran yang baru dapat menghubungkannya dengan konsep yang relevan yang sudah ada dalam struktur kognisi peserta didik.
Pada belajar bermakna peserta didik dapat mengasimilasi pada belajar bermakna secara penerimaan, materi pelajaran disajikan dalam bentuk final, sedangkan pada belajar bermakna secara penemuan, peserta didik diharapkan dapat menemukan sendiri informasi konsep atau dari materi pelajaran yang disampaikan. Belajar bermakna dapat terjadi jika peserta didik mampu mengkaitkan materi pelajaran baru dengan struktur kognitif yang sudah ada.Struktur kognitif tersebut dapat berupa fakta-fakta, konsep-konsep maupun generalisasi yang telah diperoleh atau bahkan dipahami sebelumnya oleh peserta didik. Bruner memandang manusia sebagai pemproses, pemikir, dan pencipta informasi
Anak harus mengubah dirinya untuk melakukan hal itu, sebagai contoh, jika seorang anak menemukan sebuah benda yang menghalangi jalan bagi mainannya (mobil-mobilan misalnya), anak tersebut menemukan penyelesaian yang membuat dirinya dapat memudahkan benda yang menghalangi itu dan mainannya dapat berjalan lagi. Asimilasi di lain pihak, adalah kemampuan anak mengubah untuk memenuhi apa yang ia imajinasikan. Anak memiliki ide apa yang ia inginkan dan memodifikasi lingkungan untuk mencapai hal tersebut. 
Ia mungkin melakukan modifikasi melalui aktifitas mental, misalnya seorang anak berumur 4 tahun menganggap sebatang sedotan minuman sebagai tongkat ajaib atau lempengan plastik dianggapnya sebagi pedang yang ampuh. Namun, dapat juga ia melakukannya dengan aktifitas fisik, misalnya seorang anak membuat rumah rumahan, sebuah arca atau sebuah candi dari pasir. Hal ini sering dihubungkan dengan ‘bermain’ (play), yang sangat disukai oleh anak-anak.Memang antarasimilasi dan bermain terdapat hubungan yang sangat erat. 
Kita semua tahu bahwa anak suka bermain dan asimilasi menjelaskan mekanisme psikologis mengenai hal itu.Dalam bermain anak-anak mentransformasikan objek-objek untuk memenuhi imajinasi yang ada pada dirinya. Secara mudah dapat dikatakan bahwa asimilasi melibatkan proses transformasi pengalaman di dalam pikiran, sedangkan akomodasi melibatkan proses penyesuaian pikiran terhadap pengalaman yang baru. Pada sembarang tahapan (stage) perkembangan, akomodasi atau asimilasi salah satu untuk sementara mendominasi dan baru kemudian digantikan oleh yang lain. Akhirnya suatu keseimbangan (equilibrium) akan diperoleh (untuk tahapan tertentu) melalui proses penyeimbangan atau ekuilibrasi (equilibration). Ekuilibrasi adalah kemampuan anak untuk menyusun dan mengatur.


2.2 Robert Gagne ( 1916-2002 )
Description: E:\tugas kuliah\imagesa.jpgDescription: E:\tugas kuliah\4128508no_897.jpg
A. Biografi
Robert Mills Gagne (21 Agustus 1916 – 28 April 2002), Gagne lahir di North Andover Utara, Massachusetts.Ia mendapatkan gelar A.B dari Universitas Yalepada tahun 1937 dan gelar Ph.D dari Universitas Brown pada tahun 1940. Dia adalah seorang Professor dalam bidang psikologi dan psikologi pendidikan di Connecticut College khusus wanita (1940-1949), Universitas Negara bagian Pensylvania (1945-1946), Professor di Departemen penelitian pendidikan di Universitas Negara bagian Florida di Tallahasse mulai tahun 1969.
Gagne juga menjabat sebagai direktur riset untuk angkatan udara (1949-1958) di Lackland, Texas dan Lowry, Coloradopada waktu inilah mengembangkan teori “Conditions of Learning” yang mengarahkan pada hubungan tujuan pembekajaran dan kesesuaiannya dengan desain pengajaran.Teori ini dipublikasikan pada tahun 1965 (Anonim,1; Gagne,1). Dia juga dikenal sebagai seorang psikolog eksperimental yang berkonsentrasi pada belajar dan pengajaran.Pada awal karirnya, Gagne seorang behaviorist. Kontribusi Gagne dalam bidang pengembangan pengajaran adalah tulisan-tulisannya tentang: Instructional Systems Design, The Condition of Learning (1965) dan Princeples of Instructional Design.
Gagne pernah bekerja sebagai konsultan dari departemen pertahanan (1958-1961) dan untuk dinas pendidikan Amerika Serikat (1964-1966), selain itu ia juga bekerja sebagai direktur riset pada Institut penelitianAmerika di Pittsburgh (1962-1965). Hasil kerja Gagne memiliki pengaruh besar pada pendidikan Amerika dan pada pelatihan militer dan industri.Gagne dan L. J. Briggs ada diantara pengembangan awal dari teori desain sistem instruksional yang menunjukkan bahwa semua komponen dari pelajaran atau periode instruksi dapat dianalisis dan semua komponen yang dapat dirancang untuk beroperasi bersama-sama sebagai suatu rencana untuk pengajaran.
Menurut Robert Gagne, belajar dimulai dari paling sederhana (belajar signal) dilanjutkan pada yang lebih kompleks sampai pada tipe belajar yang lebih tinggi dan prakteknya tetap mengacu pada asosiasi stimulus-respon.

B. Teori
Teori Pemrosesan Informasi
Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan.Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran.Gagne menggabungkan ide-ide behaviorisme dan kognitivisme dalam pembelajaran. Menurut Gagne, dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi untuk diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi interaksi antara kondisi internal dengan kondisi eksternal individu.Kondisi internal adalah keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi di dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. Kondisi eksternal ini oleh Gagne disebut sebagai Sembilan peristiwa pembelajaran.
Teori Robert Gagne tentang pembelajaran terdiri dari tiga prinsip.
1.      Syarat-syarat pembelajaran (conditions of learning)
2.      Sembilan peristiwa pembelajaran (nine events of instructions)
3.      Taksonomi hasil belajar (taxonomy of learning outcomes)
Dalam bukunya yang berjudul The Conditions of Learning (1970), Gagne mengemukakan delapan macam tipe belajar yang membentuk suatu hierarki belajar dari yang paling sederhana sampai dengan yang paling rumit.Gagne berpendapat bahwa tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu: (a) motivasi, (b) pemahaman, (c) pemerolehan, (d) penyimpanan, ( e) pengingatan kembali, (f) generalisasi, (g) perlakuan, dan (h) umpan balik.
Fase-fase Belajar
Menurut Gagne belajar melalui beberapa fase utama yaitu:
1. Fase Motivasi (motivatim phase)
Siswa (yang belajar) harus diberi motivasi untuk belajar dengan harapan, bahwa belajar akan memperoleh hadiah. Misalnya, siswa-siswa dapat mengharapkan bahwa informasi akan memenuhi keingintahuan mereka tentang suatu pokok  bahasan, akan berguna bagi mereka atau dapat menolong mereka untuk memperolehangka yang lebih baik.
2. Fase Pengenalan (apperehending phase)
Siswa harus memberikan perhatian pada bagian-bagian yang esensial dari suatu kejadian instruksional, jika belajar akan terjadi. Misalnya, siswa memperhatikan aspek-aspek yang relevan tentang apa yang ditunjukkan guru, atau tentang ciri-ciri utama dari suatu bangun datar. Guru dapat memfokuskan perhatian terhadap informasi yang penting.
3. Fase Perolehan (acquisition phase)
Bila siswa memperhatikan informasi yang relevan, maka ia telah siap untuk menerima pelajaran. Informasi yang disajikan, sudah dikemukakan dalam bab-bab terdahulu, bahwa informasi tidak langsung disimpan dalam memori.Informasi itu diubah menjadi bentuk yang bermakna yang dihubungkan dengan informasi yang telah ada dalam memori siswa.Siswa dapat membentuk gambaran-gambaran mentaldari informasi itu, atau membentuk asosiasi-asosiasi antara informasi baru dan informasi lama. Guru dapat memperlancar proses ini dengan penggunaan pengaturan-pengaturan awal (Ausubel. 1963), dengan membiarkan para siswamelihat atau memanipulasi benda-benda, atau dengan menunjukkan hubungan-hubungan antara informasi baru dan pengetahuan sebelumnya.
4. Fase Retensi (retentim phase)
Informasi yang baru diperoleh harus dipindahkan dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang.Ini dapat terjadi melalui pengulangan kembali (rehearsal), praktek (practice), elaborasi atau lain-lainnya.
5. Fase Pemanggilan (recall)
Mungkin saja kita dapat kehilangan hubungan dengan informasi dalammemori jangka panjang. Jadi bagian penting dalam belajar ialah belajar memperoleh hubungan dengan apa yang telah kita pelajari, untuk memanggil (recall) informasi yang telah dipelajari sebelumnya. Hubungan dengan informasi ditolong oleh organisasi materi yang diatur dengan baik dengan mengelompokkan menjadi kategori-kategori atau konsep-konsep, lebih mudah dipanggil daripada materi yang disajikan tidak teratur.Pemanggilan juga dapat ditolong, dengan memperhatikan kaitan-kaitan antara konsep-konsep, khususnya antara informasi baru dan pengetahuan sebelumnya.
6. Fase Generalisasi
Biasanya informasi itu kurang nilainya jika tidak dapat diterapkan di luar konteks dimana informasi itu dipelajari.Jadi, generalisasi atau transfer informasi pada situasi-situasi baru merupakan fase kritis dalam belajar. Transfer dapat ditolongdengan meminta para siswa menggunakan keterampilan-keterampilan berhitung baruuntuk memecahkan masalah-masalah nyata, setelah mempelajari pemuaian zat,mereka dapat menjelaskan mengapa botol yang berisi penuh dengan air dan tertutup,menjadi retak dalam lemari es.
7. Fase Penampilan
Para siswa harus memperlihatkan, bahwa mereka telah belajar sesuatumelalui penampilan yang tampak. Misalnya, setelah  mempelajari  bagaimana menggunakan busur derajat dalam pelajaran matematika, para siswa dapat mengukur  besar sudut. Setelah mempelajari penjumlahan bilangan bulat, siswa dapatmenjumlahkan dua bilangan yang disebutkan oleh temannya.
8. Fase Umpan Balik 
Para siswa harus memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka, yangmenunjukkan apakah mereka telah atau belum mengerti tentang apa yang diajarkan.Umpan balik ini dapat memberikan reinforsemen pada mereka untuk penampilan yang berhasil.
Sembilan peristiwa pembelajaran menurut Gagne adalah sebagai berikut.
1)        Memberikan perhatian (gain attention). Contoh sederhana tunjukkan selai strawberry, ceritakan kelezatan yang diperoleh dari memakannya.
2)        Memberi tahu siswa tentang tujuan pembelajaran (inform learner of objectives), biarkan siswa mengetahui apa yang akan dipelajarinya. Contohnya “Hari ini kita akan belajar membuat selai strawberry”.
3)        Dibangun atas pengetahuan yang telah lalu (recall prior knowledge). Contohnya “Apakah ada yang pernah membuat selai strawberry? Di mana, kapan, dan bahan apa saja yang diperlukan?”
4)        Menyajikan pembelajaran sebagai rangsangan (present material). Contoh: Tunukkan kepada siswa bagaimana membuat selai strawberry.
5)        Memberikan panduan belajar (provide guided learning), bantulah siswa agar dapat mengetahui pembelajaran dengan baik pada saat pembelajaran berlangsung.
6)        Menampilkan kinerja (elicit performance), mintalah para siswa mengerjakan apa-apa yang baru dipelajarinya. Contoh, berikan kepada siswa bahan-bahan untuk membuat selai strawberry dan mintalah agar membuat selai strawberry sendiri.
7)        Memberikan umpan balik (provide feedback), beritahu siswa kinerjanya masing-masing. Contoh, guru berkeliling kelas melihat bagaimana setiap siswa membuat selai strawberry.
8)        Menilai kinerja (assess performance), nilailah siswa tentang pengetahuannya mengenai topic pembelajaran. Contoh, amati selai strawberry hasil karya siswa, jika mereka benar cara membuatnya diperbolehkan memakannya.
9)        Meningkatkan ingatan dan transfer pengetahuan (enhance retention and transfer). Bantulah siswa dalam mengingat-ingat dan menerapkan keterampilan baru itu. Contoh, siswa ditugasi membuat selai strawberry pada saat karya wisata sekolah.
Sembilan peristiwa pembelajaran oleh Gagne tersebut secara tidak langsung juga telah menggambarkan langkah-langkah pembelajaran menurut Gagne.
            Dalam taksonomi hasil belajar Gagne mengidentifikasikan adanya lima kategori belajar, seperti tercantum dalam table berikut.
Taksonomi Hasil Belajar
Contoh tindakan Khusus
Informasi verbal
Mengungkapkan materi pembelajaran yang baru dipelajari seperti fakta-fakta, konsep, prinsip dan prosedur, misalnya menyebutkan gejala orang yang terserang DBD

Keterampilan Intelektual (Diskriminasi, Konsep Konkret, Konsep Terdefinisikan, Hukum-hukum, Hukum-hukum Tingkat Tinggi)
·      Diskriminasi: membedakan objek, fitur atau symbol, misalnya mendengarkan permainan instrument yang pitchnya berbeda.
·      Konsep Konkret: mengidentifikasi kelas suatu objek, fitur atau kejadian konkret, misalnya mengambil seluruh permen berwarna hijau dari sekaleng permen.
·      Konsep Terdefinisikan: menggolongkan contoh-contoh baru dari suatu kejadian atau gagasan berdasarkan definisinya, misalnya menandai frasa si Mak (emak) dengan simak sebagai aliterasi (sama bunyinya).
·      Hukum: menggunakan suatu hubungan tunggal untuk menyelesaikan sekelompok masalah. Misalnya menggunakan hukum Newton 1 untuk menyelesaikan berbagai soal fisika.
·      Hukum Tingkat Tinggi: menerapkan berbagai kombinasi baru untuk menyelesaikan masalah yang kompleks. Misalnya menggunakan hukum kekekalan massa, hukum Dalton, hukum Avogadro untuk menyelesaikan soal hitungan kimia.


Strategi kognitif
Menerapkan cara personal untuk memandu belajar, berpikir, tindakan, dan merasakan. Contoh, menyusun suatu rencana prusahaan untuk meningkatkan hubungan dengan pelanggan.
Sikap
Memilih tindakan personal yang dilandasi oleh status internal dari pemahaman dan kemampuan merasakan, misalnya menetapkan untuk berolahraga setiap hari sebagai bahan dari usaha kesehatan preventif.
Keterampilan Motorik
Melaksanakan kinerja yang melibatkan aktivitas otot-otot, seperti berenang, lompat tinggi, berlari, angkat besi, dan lain-lain.

Pengembangan lima kategori utama belajar tersebut di atas ditengarai berimplikasi terhadap hal-hal sebagai berikut:
v  Hasil belajar yang berbeda memerlukan cara mengajar yang berbeda pula, dengan kata lain guru harus mampu melaksanakan variasi dalam pembelajaran;
v  Agar berlangsung peristiwa belajar, harus dihadirkan kondisi pembelajaran tertentu, atmosfer pembelajaran harus didesain sedemikian rupa sehingga timbul keberanian siswa untuk merealisasikan ide kreatifnya;
v  Diperlukan tindakan-tindakan khusus yang menyusun kegiatan pengajaran yang berbeda untuk setiap jenis hasil pembelajaran yang berbeda pula.

Delapan Tipe Belajar
No.
Tipe Belajar
Hasil Belajar
Contoh Prestasi
1.
Belajar sinyal (signal learning)
Memberikan reaksi pada perangsang
(S-R)
Guru sejarah yang galak ditakuti siswa-siswa tidak senang pada sejarah.
2.
Belajar stimulus respon (stimulus response learning)
Memberikan reaksi pada perangsang (S- R)
Guru memuji tindakan siswa- cenderung siswa mengulang.
3
Belajar merangkai tingkah laku (behavior chaining learning)
Menghubungkan gerakan yang satu dengan yang lain
Membuka pintu mobil-duduk­kontrol persenelling-menghi­dupkan mesin-mene-kan kopling-pasang perseneling1- menginjak gas
4
Belajar asosiasi verbal (verbal chaining learning)
Memberikan reaksi verbal pada stimulus-/perangsang.
Nomor teleponmu?
 (021)   617812
5
Belajar diskriminasi(discrimination learning)
Memberikan reaksi yang berbeda pada stimulus- stimulus yang mempunyai kesamaan.
Menyebutkan merek mobil-mobil yang lewat di jalan
6
Belajar konsep (concept learning)
Menempatkan obyek-obyek dalam kelompok tertentu
Manusia, ikan paus, kera, anjing adalah mahkluk menyusui.
7
Belajar kaidah (rule learning)
Menghubungkan beberapa konsep
Benda yang bulat berguling pada alas yang miring.
8
Belajar memecahkan masalah (problem solving)
Mengembangkan beberapa kaidah menjadi prinsip pemecahan masalah.
Menemukan cara memperoleh energi dari tenaga atom, tanpa mencemarkan lingkungan hidup.
Dengan demikian, ada beberapa prinsip pembelajaran dari teori Gagne, yaitu antara lain berkaitan dengan:
(a) perhatian dan motivasi belajar peserta didik,
(b) keaktifan belajar dan keterlibatan langsung/pengalaman dalam belajar,
(c) pengulangan belajar,
(d) tantangan semangat belajar,
(e) pemberian balikan dan penguatan belajar, serta
(f) adanya perbedaan individual dalam perilaku belajar.
Selain itu, yang terpenting menurut Gagne adalah penciptaan kondisi belajar, termasuk lingkungan belajar, khususnya kondisi yang berbasis media, yaitu meliputi jenis penyajian yang disampaikan kepada peserta didik dengan penjadwalan, pengurutan dan pengorganisasiannya (Gagne, 1990 : 3). Semua ini akan berpengaruh atau berimplikasi pada pengembangan Pusat Sumber Belajar (PSB) atau Learning Resource Center (LRC).
Selain itu, teori pembelajaran Gagne menekankan pada prosedur pembelajaran yang telah terbukti berhasil meningkatkan kualitas pembelajaran yaitu:
1.      Belajar merupakan suatu kumpulan proses yang bersifat individu, yang merubah stimuli yang datang dari lingkungan seseorang ke dalam sejumlah informasi yang selanjutnya dapat menyebabkan adanya hasil belajar dalam bentuk ingatan jangka panjang. Hasil-hasil belajar ini memberikan kemampuan melakukan berbagai penampilan;
2.      Kemampuan yang merupakan hasif belajar ini dapat dikategorikan bersifat praktis dan teoritis.
3.      Peristiwa-peristiwa di dalam pembelajaran yang mempengaruhi proses belajar dapat dikelompokkan ke dalam kategori umum, tanpa memperhatikan hasil belajar yang diharapkan. Namun tiap-tiap hasil belajar memerlukan adanya peristiwa-peristiwa khusus untuk dapat terbentuk (Gagne, 1985).
Dari uraian di atas tampak bahwa teori pembelajaran merupakan suatu kumpulan prinsip yang terintegrasi dan memberikan deskripsi (petunjuk) untuk mengatur kondisi agar peserta didik mudah belajar dalam mencapai tujuan pembelajaran.Prinsip-prinsip pembelajaran dapat diterapkan dalam pembelajaran tatap muka di kelas maupunpembelajaran terbuka/jarak jauh, pembelajaran terprogram, dan lain-lain.Teori pembelajaran juga memberi arahan dalam memilih metode pembelajaran yang paling tepat untuk suatu pembelajaran tertentu.

Faktor-Faktor Determinan Yang Mempengaruhi Masalah/Kesulitan Belajar
Dalam bukunya yang berjudul The Conditions of Learning” (1965), Gagnemengidentifikasikan mengenai kondisi mental seseorang agar siap untuk belajar. Ia mengemukakan apa yang dinamakan dengan ”nine events of instruction” atau sembilan langkah/peristiwa belajar. Sembilan langkah/ peristiwa ini merupakan tahapan-tahapan yang berurutan di dalam sebuah proses pembelajaran. Tujuannya adalah memberikan kondisi yang sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran dapat berjalan secara efektifdan efisien. Agar kesembilan langkah/peristiwa itu berarti dan memberi makna yang dalam bagi siswa, maka guru harus melakukan apa yang memang harus dilakukan. Dengan kata lain menyediakan suatu pengalaman belajar atau apapun namanya agar kondisi mental siswa itu terus terjaga untuk kepentingan proses pembelajaran.
Apa yang dikemukan oleh Gagne itu akan berarti jika kita (guru) mampu menyediakan sesuatu (materi, sumber belajar, pengalaman belajar, aktivitas, dll.) yang memang dibutuhkan.
Tabel berikut ini memperjelas bagaimana kesembilan peristiwa belajar dan pembelajaran itu menjadi berarti karena proses mental yang seharusnya ada pada diri siswa telah difasilitasi oleh guru dengan langkah/tindakan kongrit. Jika diperhatikan secara mendalam, tabel di atas yang mencoba memperjelas penerapan model “nine events of instruction” yang dikemukakan oleh Gagne sudah mengimplementasikan teori pembelajaran yang bersifat perspektif dan teori belajar yang bersifat deskriptif. Dan yang paling esensial adalah bahwa di dalam proses pembelajaran guru harus paham benar seperti apa proses mental yang ada dalam diri siswa. Ketika guru menyadari akan hal itu, maka dengan mudah guru dapat memfasilitasi berbagai pengalaman belajar seperti apa yang cocok agar proses mental siswa tersebut terus berkembang.

LANGKAH
PEMBELAJARAN
PROSES MENTAL
SISWA
YANG DILAKUKAN
GURU
Menarik perhatian siswa
Merangsang dayapenerimaan siswa.
Menciptakan curiosity siswa.
Menciptakan efek-efek suara tertentu.
Mengajukan pertanyaan yang menantang.
Menyampaikan kepada siswa tentang tujuan pembelajaran
Membuat/menentukan tingkat harapan yang akan dicapai selama belajar.
Menguraikan tujuan pada awal pelajaran, secara lisan maupun tertulis.
Menstimulir/atau memanggil terlebih dahulu informasi atau pengetahuan yang sudah diperoleh sebelum proses pengajaran
Mendapatkan kembali atau dan menggiatkan short-term memori siswa.
Bertanya, berdiskusi, melihat gambar/video, mendengarkan cerita sesuai topik yang dipelajari.
Menyajikan isi pembelajaran
Siswa secara selektifmenanggapi isi pelajaran.
Menyampaikan materi pembelajaran dengan menggunakan berbagai metode, pendekatan, strategi, dan alat bantu pelajaran.
Menyediakan pedoman atau petunjuk belajar
Siswa menulis berbagai hal untuk disimpan pada memori supaya bertahan lama.
Menyediakan pedomanpetunjuk belajar yang praktis
Memberi kesempatanuntuk latihan/unjuk performance
Merespons pertanyaan, tugas, latihan, dll.
Memberi pertanyaan, tugas, latihan yang harus dilaksanakan.
Memberi umpan balik
Mengetahui tingkatpenguasaan materi dan tingkat kebenaran tugas yang dikerjakan.
Memberi penguatan/ memuji.
Melakukan penilaian
Mendapatkan/mempertegas kembali isi pelajaran sebagai bahan evaluasi akhir
Melakukan penilaian
Mengekalkan dan mengembangkan pengetahuan dan kemahiran siswa
Berlatih, mempraktikkanapa yang telah diperolehnya(kognitif, afektif, psikomotorik) dalam situasi yang baru.
Menyediakan kesempatan yang luas bagi siswa untuk memanfaatkan berbagai pengetahuan, sikap, dan keterampilan tersebut dalam situasi yang berbeda (praktikum, unjuk kerja, project, simulasi, dll).





Kelebihan dan kekurangan Teori Gagne
Kelebihannya :
  • Gagne disebut sebagai modern noebehaviouristik mendorong guru untuk merencanakan pembelajaran agar suasana dan gaya belajar dapat dimodifikasi.
  • Sangat cocok untuk memperoleh kemampuan yang membutuhkan praktek dan kebiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti kecepatan spontanitas kelenturan reflek, dan daya tahan Contoh : Percakapan bahasa Asing, menari, mengetik, olah raga, dll.
  • Cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominasi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi hadiah atau pujian.
  • Dapat dikendalikan melalui cara mengganti mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya.
·         Dengan menggunakan teori pemprosesan informasi akan membantu meningkatkan keaktifan siswa untuk berfikir.

Kekurangannya:
  • Pembelajaran siswa yang berpusat pada guru (teacher centered learning), dimana guru bersifat otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid.
  • Bersifat meanistik
  • Hanya berorientasi pada hasil yang diamati dan diukur
  • Murid hanya mendengarkan dengan tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif
·         Apabila seorang guru tidak mampu menyampaikan meteri pembelajaran serta tidak dapat menciptakan metode pembelajaran yang menarik perhatian siswa, maka proses pembelajaran akan terasa membosankan.



Daftar Pustaka
Burhanuddin,Afid.2014.Kekurangan dan Kelebihan Teori Pemprosesan Informasi dan Teori Kinerja Otak.https://afidburhanuddin.wordpress.com/2014/05/19/       kekurangan-dan-kelebihan-teori-pemrosesan-informasi-dan-teori-kinerja-otak/ (diakses pukul 12.04, 25 september 2015)
Dani.2012.Teori Gagne dan Paham Konstruktivisme.http://krisdaning217.blogspot.co.id /2012/04/ teori-gagne-dan-paham konstruktivisme.html (diakses pukul 13.00, 22 september 2015)
Kafabijh,Shofye.2013.Teori Belajar Aliran Psikologi Tingkah. http://shofyencute.blogspot.co.id/2013/02/teori-belajar-aliran-psikologi-tingkah.html (diakses pukul 12.02, 25 september 2015)
Pendidikan adalah hidupku. 2014.Implementasi Penerapan Teori Gagne. http://suksespend.blogspot.co.id/2009/06/implementasipenerapan-teori-gagne-dalam.html (diakses pukul 12.50, 22 september 2015)

Robiah.(2011). Teori Ausubel.http://http://robiah252.blogspot.co.id/2012/12/makalah-ausubel.html. (diakses pada tanggal 25 September 2015)
Salim, Asbar. (2015). Teori Belajar David Ausubel.http://asbarsalim009.blogspot.co.id/2015/01/  teori-belajar-david-ausubel.html. (diakses pada tanggal 25 September 2015)
Suharjana, Rahmat.2012.Riwayat Hidup Robert M Gagne. http://rahmatsuharjana.blogspot.co.id/2012/09/riwayat-hidup-robert-mills-gagne.html (diakses pukul 12.19, 22 september 2015)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar